Total Pageviews

Sunday, 1 July 2018

Sejarah Amerika Yang Disembunyikan


Sejarah Amerika Yang Disembunyikan





Sejalan dengan kemajuan temuan sejarah kebudayaan manusia didunia, sepertinya tulisan sejarah di buku, maupun otak kita sejak kecil banyak sekali berubah. Makin banyak sempalan berbagai fakta baru yang bisa terhubung dengan bermacam-macam kesimpulan sejarah lama, sehingga perlu banyak sekali perbaikan demi kejujuran… Jadi sedemikian serukah Sejarah dunia ? Waktu memang senjata ampuh membuka kejujuran di masa lalu.

Sejarah Budaya Islam di Amerika Tentang Suku Indian Muslim Sebelum Columbus Ternyata sebelum kedatangan Christoper Columbus (yang katanya penemu benua Amerika), umat Islam sudah terlebih dahulu menemukannya. Sebuah fakta yang tak terbantahkan lagi jika umat Islam sudah lebih dulu berada di daratan luas yang kini bernama Amerika, jauh beberapa abad sebelum kedatangan Columbus yang meng-klaim sebagai penemu Amerika.




Fakta yang paling gampang ditemui nama serupa dengan kota suci umat Islam seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, Medina di Texas yang paling besar dengan penduduk 26,000, Medina di Ontario Canada, kota Mahomet di Illinois, Mona di Utah, dan Arva di Ontario Canada, dan beberapa nama seperti California (Caliph Haronia), Alabama (Alah Bumnya), Arkansas (Arkan-sah) dan Tennesse (Tanasuh), T Allah Hassee (Tallahassee) , Alhambra, Islamorada dan sekitar 500 nama kota lainnya berasal dari kata Arab. Masih penasaran?



Distorsi Sejarah Islam Amerika

Sejarah resmi selama ini mengatakan bahwa Christopher Columbus-lah yang menemukan daratan luas yang kemudian disebut Amerika. Hal ini ternyata tidak benar. Karena 70 tahun sebelum Columbus menjejakkan kaki di amerika, daratan yang disangkanya India, Laksamana Muslim dari China bernama Ceng Ho (Zheng He) telah mendarat di Amerika. Bahkan berabad sebelum Ceng Ho, pelaut-pelaut Muslim dari Spanyol dan Afrika Barat telah membuat kampung-kampung di Amerika dan berasimilasi secara damai dengan penduduk lokal di sana.


Penemu Amerika bukanlah Columbus. Penemu Amerika adalah Umat Islam. Mereka menikah dengan penduduk lokal, orang-orang Indian, sehingga menjadi bagian dari local-genius Amerika. Ada sejumlah literatur yang berangkat dari fakta-fakta empirik bahwa umat Islam sudah hidup di Amerika beberapa abad sebelum Colombus datang. Salah satunya yang paling popular adalah essay Dr. Youssef Mroueh, dari Preparatory Commitee for International Festivals to celebrate the millennium of the Muslims arrival to the Americas, tahun 1996, yang berjudul “Precolumbian Muslims in America“.


Dalam essaynya, Doktor Mroueh menulis, “Sejumlah fakta menunjukkan bahwa Muslimin dari Spanyol dan Afrika Barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya lima abad sebelum Columbus. Pada pertengahan abad ke-10, pada waktu pemerintahan Khalifah Umayyah, yaitu Abdurrahman III (929 - 961M), kaum Muslimin yang berasal dari Afrika berlayar ke Barat dari pelabuhan Delbra (Palos) di Spanyol, menembus ’samudra yang gelap dan berkabut’. Setelah menghilang beberapa lama, mereka kembali dengan sejumlah harta dari negeri yang ‘tak dikenal dan aneh’. Ada kaum Muslimin yang tinggal bermukim di negeri baru itu, dan mereka inilah kaum imigram Muslimin gelombang pertama di Amerika.”


Granada, benteng pertahanan terakhir ummat Islam di Eropa jatuh pada tahun 1492. Pada pertengahan abad ke-16 terjadilah pemaksaan besar-besaran secara kejam terhadap orang-orang Yahudi dan Muslimin untuk menganut agama Katholik, yang terkenal dalam sejarah sebagai Spanish Inquisition.

Pada masa itu keadaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam sangat menyedihkan, karena penganiayaan dari pihak Gereja Katolik Roma yang dilaksanakan oleh inkuisisi tersebut. Ada tiga macam sikap orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam dalam menghadapi inkusisi itu:

·                     Pertama, yang tidak mau beralih agama. Akibatnya mereka disiksa kemudian dieksekusi dengan dibakar atau dipancangkan di kayu salib.

·                     Kedua, beralih agama menjadi Katholik Roma. Mereka itu diawasi pula apakah memang berganti agama secara serius atau tidak. Kelompok orang Islam yang beralih agama itu disebut kelompok Morisko, sedangkan yang dari agama Yahudi disebut kelompok Marrano.

·                     Ketiga, melarikan diri atau hijrah menyeberang Laut Atlantik yang dahulunya dinamakan Samudra yang gelap dan berkabut. Inilah kelompok imigran gelombang kedua di negeri baru itu. Penganiayaan itu mencapai puncaknya semasa Paus Sixtus V (1585-1590).



Sekurang-kurangnya ada dua dokumen yang menyangkut inkusisi ini :

·                     Yang pertama, Raja Spanyol Carlos V mengeluarkan dekrit pada tahun 1539 melarang penduduk bermigrasi ke Amerika Latin bagi keturunan Muslimin yang dihukum bakar dan dieksekusi di kayu sula itu.

·                     Yang kedua dekrit itu diratifikasi pada 1543, dan disertai perintah pengusiran Muslimin keluar dari jajahan Spanyol di seberang laut Atlantik. Ini adalah bukti historis adanya imigran Muslimin gelombang kedua sebelum tahun 1543 (dekrit kedua).



Ada banyak literatur yang membuktikan adanya kehadiran Muslimin gelombang pertama ke Amerika jauh sebelum zaman Columbus. Bukti-bukti itu antara lain:

·                     Abul-Hassan Ali Ibnu Al-Hussain Al-Masudi merupakan seorang pakar sejarah dan geografi yang hidup dari tahun 871-957 M. Dalam karyanya yang berjudul “Muruj adh-dhahab wa maad aljawhar” (Hamparan Emas dan Tambang Permata), Abu Hassan menulis bahwa pada waktu pemerintahan Khalifah Abdullah Ibn Muhammad (888-912), penjelajah Muslim Khasykhasy Ibn Sa’ied Ibn Aswad dari Cordova-Spanyol, telah berlayar dari Delba (Palos) pada 889, menyeberang Samudra yang gelap dan berkabut dan mencapai sebuah negeri yang asing (al-ardh majhul) dan kembali dengan harta yang mentakjubkan. Pada peta Al-Masudi terbentang luas negeri yang disebutnya dengan al-ardh majhul. [Al-Masudi: Muruj Adh-Dhahab, Vol. 1, P. 1385]

·                     Leo Weiner, pakar sejarah dari Harvard University, dalam bukunya “Africa and the Discovery of America” (1920) menulis bahwa Columbus telah mengetahui kehadiran orang-orang Islam yang tersebar seluas Karibia, Amerika Tengah dan Utara, termasuk Canada. Mereka berdagang dan telah melakukan asimilasi perkawinan dengan orang-orang Indian dari suku Iroquois dan Algonquin. dalam bukunya yang terkenal Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaaq (Ekskursi dari yang Rindu Mengarungi Ufuq) bahwa sekelompok pelaut dari Afrika Utara berlayar mengarungi Samudra yang gelap dan berkabut dari Lisbon (Portugal) dengan maksud mendapatkan apa yang ada di balik samudra itu, betapa luasnya dan di mana batasnya. Mereka menemukan pulau yang penghuninya bercocok tanam dan telah mempergunakan bahasa Arab.

·                     Columbus dan para penjelajah Spanyol serta Portugis mampu melayari menyeberang Samudra Atlantik dalam jarak sekitar 2400 km, adalah karena bantuan informasi geografis dan navigasi dari peta yang dibuat oleh pedagang-pedagang Muslimin, termasuk informasi dari buku tulisan Abul Hassan Al-Masudi yang berjudul Akhbar az-Zaman. Tidak banyak diketahui orang, bahwa Columbus dibantu oleh dua orang nakhoda Muslim pada waktu ekspedisi pertamanya menyeberang trans-atlantik.Kedua kapten Muslim itu adalah dua bersaudara Martin Alonso Pinzon yang menakodai kapal Pinta, dan Vicente Yanez Pinzon yang menakodai kapal Nina. Keduanya adalah hartawan yang mahir dalam seluk-beluk perkapalan, membantu Columbus dalam organisasi ekspedisi itu, dan mempersiapkan perlengkapan kapal bendera Santa Maria. Bersaudara Pinzon ini masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan Abuzayan Muhammad III (1362-66), Sultan Maroko dari dinasti Marinid (1196-1465). (Thacher, John Boyd: Christopher Columbus, New York 1950).

·                     Para antropologis telah menemukan prasasti dalam bahasa Arab di lembah Mississipi dan Arizona. Dari prasasti itu diperoleh keterangan bahwa imigran itu membawa juga gajah dari Afrika. (Winters, Clyde Ahmad: Islam in Early North and South America, Al-Ittihad, July 1977, p.60)

·                     Columbus menulis bahwa pada hari Senin, 21 Oktober 1492, sementara ia berlayar dekat Gibara pada bagian tenggara pantai Cuba, Columbus menyaksikan masjid di atas puncak bukit yang indah. Reruntuhan beberapa masjid dan menaranya serta tulisan ayat Al Quran telah didapatkan di berbagai tempat seperti Cuba, Mexico, Texas, dan Nevada. (Thacher, John Boyd: Christopher Columbus, New York 1950)

·                     Dr. Barry Fell dari Harvard University menulis bahwa fakta-fakta ilmiah telah menunjukkan bahwa berabad-abad sebelum Columbus, telah bermukim kaum Muslimin di Benua Baru dari Afrika Utara dan Barat. Dr. Fell mendapatkan adanya sekolah-sekolah Islam di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe, dan Hickison Summit Pass (Nevada), Mesa Verde (Colorado), Mimbres Valley (New Mexico) dan Tipper Canoe (Indiana) dalam tahun-tahun 700-800. (FellL, Barry: Saga America, New York, 1980] dan GYR,DONALD: Exploring Rock Art, Santa Barbara, 1989).



Jejak Peninggalan Muslim Amerika

Di sekujur benua Amerika kita akan bisa mendapatkan jejak-jejak umat Islam gelombang pertama dan kedua, jauh sebelum kedatangan Columbus. Lihat peta Amerika hari ini buatan Rand McNallydan cermati nama-nama tempat yang ada di Amerika. Di tengah kota Los Angeles terdapat nama kawasan Alhambra, juga nama-nama teluk El Morro dan Alamitos, serta nama-nama tempat seperti Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.
Di bagian tengah Amerika, dari selatan hingga Illinois terdapat nama-nama kota Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Di negara bagian Washington misalnya, terdapat kota Salem. Lalu di Karibia (ini jelas kata Arab) dan Amerika Tengah misalnya ada nama Jamaika, Pulau Cuba (berasal dari kata Quba?) dengan ibukotanya La Habana (Havana), serta pulau-pulau Grenada, Barbados, Bahama, dan Nassau.

Di Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Nama-nama pegunungan Appalachian (Apala-che) di pantai timur dan pegunungan Absarooka di pantai barat. Kota besar di Ohio pada muara sungai Wabash yang panjang dan meliuk-liuk bernama Toledo, satu nama universitas Islam ketika Islam masih berjaya di Andalusia, Spanyol.

Menurut Dr. Youssef Mroueh, sekarang saja terdapat tidak kurang dari 565 nama tempat di Amerika Utara, baik di negara bagian, kota, sungai, gunung, danau, dan desa yang diambil dari nama Islam ataupun nama dengan akar kata bahasa Arab. Sebanyak 484 di Amerika Serikat dan 81 di Canada. Ini merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa Islam telah ada di sana sebelum Columbus mendarat. Dr. A. Zahoor bahkan menegaskan bahwa nama negara bagian seperti Alabama, sebenarnya berasal dari kata Allah-bamya, dan juga nama negara Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah, serta Tennesse dari kata Tanasuh.

Dr. Mroueh juga menuliskan beberapa nama yang dicatatnya malah merupakan nama kota suci kita seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, Medina di Texas yang paling besar dengan penduduk 26,000, Medina di Ontario Canada, kota Mahomet di Illinois, Mona di Utah, dan Arva di Ontario Canada.

Ketika Columbus mendarat di kepulauan Bahama pada 12 Oktober 1492, pulau itu sudah dinamai Guanahani oleh penduduknya. Kata ini berasal dari bahasa Mandika yang merupakan turunan dari bahasa Arab. Dilaporkan oleh Columbus bahwa penduduk asli di sini bersahabat dan suka menolong. Guana, yang hingga hari ini masih banyak dipakai sebagai nama di kawasan Amerika Tengah, Selatan dan Utara, berasal dari kata Ikhwana yang berarti ’saudara’ dalam bahasa Arab.

Guanahani berarti tempat keluarga Hani bersaudara. Namun Columbus dengan seenaknya menamakan tempat ini sebagai San Salvador dan merampas kepemilikan pulau itu atas nama kerajaan Spanyol. Columbus dalam catatannya menuliskan bahwa pada 21 Oktober 1492 dia melihat reruntuhan masjid dan menaranya lengkap dengan tulisan ayat-ayat Al Qur’an telah ditemukan selain di Cuba, juga di Mexico, Texas, dan Nevada.

Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berangkat dari Tarfay di Maroko pada zamanSultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 - 1307), penguasa keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Mroueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 - 1384) mencatat berbagai ekpedisi ini dengan cermat. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika.

Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu. Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 - 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 - 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I (1517). Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara akurat.



Indian dan Umat Islam

Beberapa nama-nama suku Indian dan kepala sukunya juga berasal dari akar kata bahasa Arab, seperti: Anasazi, Apache, Arawak, Cherokee (Shar-kee), Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Kepala suku Indian Cherokee yang terkenal, Sequoyah yang nama aslinya Sikwoya, merupakan ketua suku yang sangat terkenal karena beliau menciptakan sillabel huruf-huruf (Cherokee Syllabary) bagi orang Indian pada tahun 1821. Namanya diabadikan sebagai nama pohon Redwood yang tertinggi di California, sekarang dapat disaksikan di taman hutan lindung di utara San Francisco.

Sequoyah berlainan dengan gambaran stereotip tentang suku Indian yang selalu mengenakan bulu-bulu burung warna-warni di kepalanya, seperti yang banyak digambarkan para seniman Barat selama ini, Sequoyah (lihat gambar) selalu mengenakan sorban. Dia tidak sendirian, masih banyak ketua suku Indian yang mengenakan tutup kepala gaya orang Islam. Mereka adalah Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Bahkan sebagian dari mereka mengenakan penutup kepala yang khas Arab seperti ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Orang-orang Indian Amerika juga memegang nilai ketuhanan dengan mempercayai adanya Tuhan yang menguasai seluruh alam semesta ini, dan Tuhan tersebut tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini bahwa tugas utama manusia diciptakan oleh Tuhan adalah untuk memuja dan menyembahnya. Seperti penuturan seorang kepala suku Ohiyesa: “In the life of the Indian, there was only inevitable duty -the duty of prayer- the daily recognition of the Unseen and the Eternal“.

Di dalam AlQur’an, kita diberitahukan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin adalah semata-mata demi untuk beribadah kepada Allah SWT. Ahli sejarah seni Jerman, Alexander Von Wuthenau, dalam buku klasiknya “Unexpected Faces in Ancient America” (1975); serta Ivan Van Sertima dengan buku “They Came Before Columbus” (1976) dan juga mengedit buku “African Presence In Early America” di mana intelektual Perancis abad ke-19 Brasseur de Bourboug di situ mengungkapkan keberadaan orang-orang Islam di Amerika tengah, yang juga didukung essei dari P.V. Ramos dalam buku yang sama tentang keberadaan “Mohemmedans” di Karibia (Carib) yang dijumpai Columbus.

Beberapa literature lainnya yang bisa ditelusuri tentang hal yang sama antara lain dari ahli arkeologi dan linguis Howard Barraclough (Barry) Fell berjudul “Saga America” (1980); Colin Taylor(editor) “The Native Americans” (1991); dan orientalis Inggris De Lacy O’Leary yang menulis “Arabic Thought and It’s Place In Western History” (1992).

Salah satu buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karya Gavin Menzies, seorang bekas pelaut & mantan komandan kapal selam Kerajaan Laut Inggris, yang menerbitkan hasil penelusurannya, menemukan adanya peta empat buah pulau di Karibia yang dibuat pada tahun 1424 dan ditandatangani oleh Zuane Pissigano, kartografer dari Venesia. Peta ini berarti dibuat 68 tahun sebelum Columbus mendarat di Amerika.

Dua pulau pada peta ini kemudian diidentifikasi sebagai Puerto Rico dan Guadalupe. Menzies juga mengemukakan bahwa Laksamana Zheng He (Ceng Ho), seorang Pejabat Kekaisaran Cina Muslim, telah mendarat di Amerika pada tahun 1421, 71 tahun lebih awal ketimbang Columbus. Lima abad sebelumnya, Khaskhas Ibn Saeed Ibn Aswad pun telah menjejakkan kaki di Amerika. Jelas, penemu Amerika sama sekali bukan Colombus, tetapi para pionir pelayaran dunia, yakni pelaut-pelaut Islam yang ulung.





.


SEJARAH ISLAM YANG DIGELAPKAN


SEJARAH ISLAM YANG DIGELAPKAN  KHAIRUDDIN BARBAROSSA





The Barbarosa Brothers

Pada abad ke-15 Masihi, di Laut Mediterranean ada dua pelaut bersaudara yang disebut The Barbarossa Brothers. Kedua-dua tokoh ini menjadi legenda dalam dunia lautan dan merupakan tokoh pelaut yang sangat ditakuti orang-orang Eropah pada zamannya.

Kebiasaannya ialah merampas barang-barang berharga yang dibawa oleh kapal-kapal milik kerajaan-kerajaan Eropah yang melintasi Laut Mediterranean. Awak kapal yang dirampas biasanya diberi dua pilihan; mati kerana melawan atau hidup dengan menyerah secara sukarela.

Siapakah sebenarnya Barbarossa yang sangat ditakuti oleh orang-orang Eropah selama berabad-abad itu? Mengapa hingga zaman sekarang nama itu terus menghantui benak dan fikiran mereka? 

Barbarossa bukanlah sebuah nama. Barbarossa merupakan kata dalam bahasa Latin-gabungan dari kata barber (janggut) dan rossa (merah). Jadi Barbarrossa bererti janggut merah. Barbarossa merupakan julukan yang diberikan oleh para pelaut Eropah kepada adik-beradik Aruj dan Khairuddin dari Turki. Kedua-dua adik-beradik ini hanyalah pelaut-pelaut biasa yang rutin belayar di kawasan perairan Greece dan Turki.


Awal Gerakan Barbarosa
Pada suatu hari, tanpa sebab yang jelas, kapal milik keluarga mereka diserang secara kejam oleh kapal tentera Knight of Rhodes. Dalam peristiwa ini, adik bongsu Aruj dan Khairuddin terbunuh. Aruj dan Khairuddin sangat sedih dengan kematian adik bongsu mereka.

Sejak saat itu, mereka melakukan aksi lanun terhadap semua kapal-kapal tentera milik kerajaan-kerajaan Kristian. Aksi-aksi mereka sangat menggemparkan dan membuat mereka ditakuti tentera Kristian. Aruj dan Khairuddin pun kemudian dikenali sebagai The Barbarossa Brothers Pirates kerana kedua-duanya berjanggut merah.

Kaum Eropah menyebut Barbarossa sebagai lanun laut, walaupun tidak ada bendera hitam dan tengkorak yang menjadi simbol lanun. Bendera yang dipasang Aruj dan Khairuddin di kapal mereka adalah sebuah bendera berwarna hijau mengandungi kaligrafi doa Nashrun minallaah wa fathun qariib wa basysyiril mu'miniin, wahai Muhammad, empat nama khulafaur rasyidin, pedang Zulfikar dan bintang segi enam Yahudi (Bintang David) kerana anak kapal yang dipimpin kedua bersaudara ini terdiri daripada orang-orang Islam dari bangsa Moor, Turki, dan Sepanyol, serta beberapa orang Yahudi.

Pada tahun 1492 M, Andalusia yang sejak tahun 756 M dikuasai oleh Daulah Khilafah Islamiyah, jatuh ke tangan Pasukan Salib yang terdiri daripada pasukan gabungan Aragon dan Sepanyol. Dalam peristiwa penaklukan Andalusia ini, berjuta-juta orang Islam dan Yahudi tewas dibantai pasukan yang dipimpin Raja Ferdinand II dari Aragon.


PERJUANGAN JIHAD Barbarosa
Peristiwa itu mengubah haluan misi dendam Aruj dan Khairuddin menjadi misi Jihad Islam. Berganding bahu bersama sekumpulan militan bangsa Moor, mereka kemudian menyelamatkan puluhan ribu Umat Islam dari Sepanyol ke Afrika utara (Maghribi, Tunisia dan Algeria). Kemudian mereka membina pangkalan pertahanan laut di Algeria untuk menghalang gelombang serangan Pasukan Salib dari jalur Afrika Utara menuju Tanah Suci Palestin.

Khalifah Islam ketika itu, Sulaiman I, mendengar cerita-cerita kehebatan Barbarossa bersaudara. Sulaiman I sangat kagum pada heroisme mereka. Kerana prestasi mereka di lautan, akhirnya Sulaiman I mengangkat Aruj dan Khairuddin sebagai Kapudan Pasha (Panglima Tentera Laut) Khilafah Islamiyyah untuk memantapkan Tentera Laut Daulah Khilafah Islamiyah yang amburadul.



HASUTAN PIHAK SEPANYOL
Pada tahun 1518 Sepanyol berjaya menghasut Amir bandar Tlemcen (Tilmisan) untuk melancarkan pemberontakan kepada kepemimpinan Aruj. Aruj kemudian menyerahkan pemerintahan Algeria kepada Khairuddin untuk sementara. Lalu ia memimpin pasukan untuk berangkat ke Tlemcen. Hati Aruj sangat pilu kerana dia malah berperang dengan saudara sendiri sesama Muslim. Akibatnya dia kurang menumpukan perhatian dan pasukannya kucar-kacir.

Aruj sempat melepaskan diri, namun banyak pasukannya yang tertangkap. Kerana hubungan emosionalnya dengan anak buahnya, Aruj kembali ke Tlemcen untuk bertempur dan dia gugur dalam pertempuran tersebut.

Dengan gugurnya Aruj, kepimpinan Tentera Laut Daulah Khilafah Islamiyah beralih ke tangan Khairuddin. Sepanyol mengira bahawa era kejayaan Barbarossa di Laut Tengah telah berakhir. Lalu, dengan yakin, Sepanyol menghantar 20,000 tenteranya ke Algeria. Pertempuran hebat pun berlaku, namun Khairuddin berjaya menewaskan pasukan laut tersebut.



Sejarah dan Kehebatan Pasukan Janissary
Dengan meminimumkan ancaman dari negeri sekitar Algeria, selain ancaman utama Sepanyol, Khairuddin kemudian meminta kepada Khalifah Sulaiman I agar kuasa Amir Tunisia dan Tlemcen dialihkan kepadanya. Sulaiman I pun setuju. Pada 1519, Khalifah mengangkat Khairuddin sebagai beylerbey (Bakhlair Baik) atau wakil Khalifah untuk wilayah Algeria dan sekitarnya. Kemudian Khairuddin juga ditugaskan untuk memimpin pasukan tentera elit Daulah Khilafah Islamiyah, Pasukan Janissary.

Dalam masa kepimpinan Khairuddin, Pasukan Janissary berjaya melakukan banyak penyelamatan Umat Islam di Andalusia. Tercatat mereka melakukan 7 kali pelayaran dengan 36 buah kapal untuk mengangkut Umat Islam Sepanyol yang diburu seperti haiwan oleh Ferdinand II dan Pasukan salibnya.

Pertengahan dekad 1520-an, Pasukan Darat Janissary yang dipimpin oleh Khalifah Sulaiman I berjaya memenangi semua pertempuran darat. Pada masa yang sama, Pasukan Laut Janissary di bawah pimpinan Khairuddin juga berjaya mengawal lalu lintas pelayaran di Laut Tengah sepenuhnya. Keadaan ini membuat Pasukan Salib Kristian Eropah menjadi keruan.

Akhir Gemilang Barbarosa Sebelum Kematiannya

Tahun 1538, Pasukan Salib Gabungan Itali-Sepanyol menyerang Preveza yang ketika itu merupakan pelabuhan penting di Laut Tengah. Andrea Doria memimpin 40 kapal dan Barbarossa hanya memimpin 20 kapal. Namun dengan kecerdikannya, Barbarossa memecah armadanya ke tiga arah dan memerangkap Pasukan Andrea Doria di tengah-tengah dan kemudian mengebom armada Andrea Doria habis-habisan.

Andrea Doria dan armada lautnya pun lari dari pertempuran. Walau begitu, Khairuddin tidak mengejarnya kerana dia tidak mahu berperang di laut lepas, mengingati kapal-kapal armada laut Sepanyol mempunyai peralatan yang lebih canggih. Apalagi ia hanya memimpin 20 kapal.

Tiga tahun kemudian, Pasukan Salib Gabungan Sepanyol-Genoa kembali menyerang Algeria dengan kekuatan 200 kapal. Mereka sengaja melancarkan serangan di luar musim pelayaran, untuk mengelakkan pertemuan dengan Pasukan Barbarossa. Rakyat Algeria di bawah pimpinan Hasan Agha berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan Algeria. Charles V dan Andrea Doria yang memimpin serangan tidak menjangka bahawa pertahanan dan strategi perang Hasan Agha sangat matang, sehingga armadanya pun kacau-bilau.

Ketika itu pula tiba-tiba badai laut dahsyat menghentam Laut Mediterranean. Andrea Doria dan Charles V berjaya selamat, dan kembali ke negerinya dengan kekalahan pahit.

Tahun 1565, di penghujung usia, Khairuddin Barbarossa memimpin pasukan untuk merebut Malta dari tangan Knight of St. John. Namun dalam pertempuran itu, Khairuddin gugur. Kemudian Khairuddin dimakamkan di Istanbul. Berhampiran kuburnya dibina sebuah masjid dan madrasah untuk mengenangnya. Hingga kini makam tersebut masih dijaga untuk menjadi bukti kepahlawanan Khairuddin atau dikenali sebagai Barbarossa yang namanya masih ditakuti bangsa Eropah hingga zaman sekarang. 




 .

.

KEAGUNGAN TAMADUN ISLAM YANG DIGELAPKAN




KEAGUNGAN TAMADUN ISLAM YANG DIGELAPKAN.







Tanah Arab, seperti yang diketahui umum, adalah tapak asas penubuhan daulah Islamiyyah yang terawal sekali. Kelahiran Nabi Muhammad s.a.w di kota Mekah bemakna telah bermulalah episod kelahiran agama Islam dalam sejarah dunia. Selepas beberapa tahun, Kota Madinah telah menjadi kerajaan Islam yang pertama ditubuhkan didunia apabila berlakunya peristiwa penghijrahan Nabi s.a.w bersama para sahabat ke Kota Madinah.

Selepas kewafatan Nabi s.a.w, zaman era sahabat dan tabi’en diteruskan, dan ketika ini begitu banyak negeri dan wilayah di sekitar semenanjung tanah Arab dibuka oleh masyarakat Islam yang terdiri dari kalangan sahabat, tabi’en dan tabi’nya.

Selepas zaman pasca-Khulafa’Ar-Rasyidin, kemunculan Daulah Islamiyyah Umayyah, Abasiyyah, Fatimiyyah, Uthmaniyyah dan lain-lainnya mengalami era kepesatan perkembangan ilmu pengetahuan sepertimana yang tercatat di dalam sejarah tamadun Islam. Kemasukan ilmu dari luar, seperti dari tamadun Yunani dan sebagainya, telah membantu merencam pemikiran intelektual orang Islam dalam pelbagai displin ilmu pengetahuan yang menjadi rujukan ilmuan dan saintis di seluruh dunia termasuk Eropah.

Cordova, Baghdad, Andalusia, Kaherah, Basrah dan Kufah. Masing-masing mencatatkan sejarahnya sendiri dengan melahirkan cendekiawan perintis era zaman keemasan Islam. Tetapi tahukah anda, siapakah yang menjadi tulang belakang pemangkin pada era kegemilangan ini?

Anda pernah mendengar nama Ibn Sina? Ibn Rusyd? dan bapa optik moden iaitu Ibn Al-Haitami? Mungkin kita selalu mendengar nama mereka ini dalam buku sejarah. Tetapi bukan sekadar dalam buku sejarah sahaja, bahkan nama mereka di’inggeris’kan dan tercatat di dalam buku-buku falsafah dan sains perubatan dengan nama Avicenna, Averrous dan AlHazen!!! Mengapa dengan mereka?



Mereka itu adalah berbangsa Parsi.

Tidak ketinggalan juga kepada saintis dan ahli falsafah berbangsa Parsi yang lain seperti al-Kindi, Omar al-Khayyam, al-Khawarizmi (ahli fizik, astronomi dan matematik), Abd Rahman al-Biruni, Imam al-Gazali, Jabir Bin Haiyam (bapa kimia), al-Mawardi (muhaddis dan tokoh feqh), al-Razi (falsafah, perubatan dan astronomi) dan ramai lagi.

Jangan lupa juga kepada bapa Nahu dan Sorof iaitu Sibawaih adalah berbangsa Parsi. Sasterawan ulung, Jalaluddin ar-Rumi. Pencetus idea Taj Mahal iaitu Mumtaz Mahal. Wanita bijak dalam Kisah Seribu Satu Malam iaitu Shaharzad. Meraka semua ini adalah berbangsa Parsi.

Ramai lagi tokoh-tokoh hadis dan ulama’-ulama’ muktabar, baik dalam ilmu agama mahupun dalam ilmu nasional, yang berbangsa Parsi, telah menjadi figura utama yang memainkan peranan ketika era ‘The Islamic Golden Age’ suatu ketika dahulu. (anda boleh merujuk Muqaddimah Ibn Khaldun dalam bab ke-2, Ilmu Bumi)

Ahli sejarah menulis beberapa sebab mengenai kekuatan ilmu pengetahuan bangsa Parsi. Antaranya adalah orang-orang Arab hanya lebih memberi tumpuan dalam sistem politik dan dan tampuk pemerintahan, sedangkan orang-orang Parsi lebih gemar mengkaji dan mendalami ilmu pengetahuan. Sebab itu sesetengah ahli sejarah menulis bahawa bangsa Parsi telah menyokong meralihan takhta kerajaan Abasiyyah dari tangan Umayyah, kerana segelintir pemimpin kerajaan Umayyah melakukan diskriminasi tehadap bangsa Parsi.

Walau apapun yang dicatat oleh sejarah (sama ada betul ataupun tidak), kita tidak mampu untuk menafikan kekuatan ilmu dan kepandaian bangsa Parsi dalam tamadun peradaban manusia.


Bangsa Perang dan Ahli Strategi

Tidak dinafikan, bangsa Parsi adalah bangsa yang suka berperang dan dikenali dengan bangsa penakluk. Parsi telah memulakan tradisi penaklukannya sejak sebelum kedatangan Islam lagi, iaitu ketika bermulanya empayar Achaemenid di bawah pemerintahan Cyrus The Great dan juga Darius of Persia. Empayar ini memperluaskan kuasa hingga menakluki Sungai Indus dan sekitar Eropah.

Setelah itu empayar Parsi melalui era Hellenistik, Parthian dan Sassanid, hinggalah ditakluki oleh kerajaan Islam Umayyah (650-1037 M). Bangsa Parsi diIslamkan dan kerana penaklukan Umayyah ini bangsa Parsi begitu tidak selesa dengan kerajaan Umayyah atas nama diskriminasi bangsa. Corak pemerintahan kerajaan Umayyah sedikit sebanyak dipengaruhi corak pemerintahan orang-orang Parsi dan pemerintahan Byzantium.

Ketika ini Bahasa Arab menjadi lingua franca dan Agama Islam bertapak menggantikan kepercayaan Zoroastrianism. Kerana itulah munculnya para intelektual Parsi yang mahir dalam bahasa Arab dan beragama Islam.

Peralihan kuasa kerajaan Abasiyyah menyaksikan bangsa Parsi memainkan peranan penting dalam bidang pentadbiran. Sehinggakan kota Damascus yang menjadi pentadbiran kerajaan Umayyah, ditukar ke Baghdad pada zaman pemerintahan Bani Abasiyyah. Kerajaan Uthmaniyah berlalu sehinggalah diakhiri dengan pemerintahan Shah ketika mana berlakunya Revolusi Iran (1979-1988), dimana pemerintahan boneka Amerika, iaitu oleh Shah Reza Pahlavi digulingkan oleh Parti Islam yang dipimpin Ayatullah Khomeini.

Anda juga jangan terlepas pandang dengan sejarah Rasullullah s.a.w di dalam perang Khandak. Siapa lagi yang memulakan taktik perang berparit kalau bukan dari idea perang orang-orang Parsi yang dicadangkan oleh sahabat Salman al-Farisi r.a (al-Farisi adalah gelaran para sahabat pada Salman yang berbangsa Parsi). Sehingga Nabi s.a.w menerima cadangannya, dan Allah mengurniakan kemenangan untuk ummat Islam ketika itu bersebab dari kebijaksaan yang dikurniakan pada bangsa Parsi ini.

Jelas orang-orang Parsi ini kehidupan mereka penuh dengan strategi perang dan penaklukan. Bukan masanya untuk mendewa-dewakan Syi’ah yang rata-ratanya berbangsa Parsi, tetapi mereka ini adalah sebahagian ahli qiblat yang tidak patut untuk kita kafirkan, dan mereka mempunyai peranan yang begitu penting dan signifikan dalam perjuangan Islam.

Dan ingatan ikhlas untuk kongkang putih, jangan terlalu ghairah menjatuhkan musuh satu persatu, takut-takut nanti dahan yang dicapai tak dapat, jatuh tersungkur disebabkan tersilap langkah. Inilah dia sejarah dan kekuatan bangsa Parsi yang istimewa yang perlu kita ketahui. Mereka sudah memberi tag dalam sejarah Islam sejak dahulu lagi. Orang-orang Melayu pula bagaimana?…






.